Humas — Memasuki sesi kedua hari ketiga Workshop Penguatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bertema “Membangun Ekosistem Madrasah yang Humanis, Kolaboratif, dan Berkemajuan”, Jumat (10/7/2026), keluarga besar MAN 1 Banyumas mendapatkan pembinaan inspiratif dari Dr. H. Ibnu Asaddudin, S.Ag., M.Pd., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas.
Dalam pembinaannya, Dr. Ibnu mengawali dengan menyoroti fenomena darurat LGBT yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama. Ia mengajak seluruh guru untuk memperkuat pendidikan karakter, akhlak, dan nilai-nilai keagamaan sebagai benteng utama dalam membimbing generasi muda menghadapi berbagai tantangan moral di era modern.
Lebih jauh, beliau mengajak peserta mengubah cara pandang tentang kepemimpinan. Menurutnya, paradigma lama yang memandang pemimpin sebagai sosok yang harus dilayani perlu ditinggalkan. Sebaliknya, pemimpin sejati adalah sosok yang hadir untuk melayani dan mengayomi.
Mengutip falsafah kepemimpinan, beliau menjelaskan bahwa pemimpin adalah “amirul qaum”, yang bertugas membimbing dan mengarahkan umat atau anggotanya menuju tujuan bersama. Seorang pemimpin memang memegang amanah besar, tetapi amanah tersebut bukan untuk menunjukkan kekuasaan, melainkan untuk memastikan seluruh anggota dapat berkembang dan mencapai keberhasilan.
“Semakin tinggi jabatan seseorang, sesungguhnya semakin besar tanggung jawabnya untuk melayani. Semakin tinggi jabatan, semakin rendah kedudukannya di hadapan orang-orang yang dipimpinnya,” tegasnya di hadapan seluruh guru dan tenaga kependidikan.
Ia juga mengingatkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh melukai semangat maupun harga diri “pasukannya”. Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung pada kemampuan pemimpin membangun kepercayaan, memberikan keteladanan, serta menciptakan lingkungan kerja yang saling menghargai.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ibnu menegaskan bahwa strategi yang dirancang sebaik apa pun tidak akan menghasilkan perubahan apabila budaya organisasi tidak dibangun dengan baik.
“Merencanakan strategi yang hebat akan menjadi sia-sia apabila budaya kerjanya tidak sehat. Budaya yang baik akan melahirkan organisasi yang kuat.”
Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh keluarga besar MAN 1 Banyumas untuk terus memperkuat tiga komitmen utama, yakni komitmen kebersamaan, komitmen berprestasi, dan komitmen menjadi yang terbaik. Ketiga komitmen tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membangun MAN 1 Banyumas sebagai madrasah yang unggul, humanis, kolaboratif, dan berkemajuan.
Pembinaan ini semakin memperkaya rangkaian Workshop Penguatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), sekaligus menjadi penguat semangat seluruh civitas akademika MAN 1 Banyumas untuk menghadirkan kepemimpinan yang melayani, budaya kerja yang positif, dan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter serta prestasi murid. (hms)
